Pecinta Seni Padati Bandung International Design Arts Festival 2017





Bandung – Papan putih yang dibentuk Jadi stand sederhana memenuhi seisi ruangan Gedung Serbaguna Telkom University, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Dibalik stand itu, terdapat puluhan karya seni digital yang tertara rapi, hasil karya Artis di dan luar negeri yang meramaikan perhelatan Bandung International Design Arts Festival (BIDAF) 2017.

Perhelatan BIDAF ke empat ini baru pertama kali diselenggarakan di lingkungan universitas, Padahal tiga kali perhelatan BIDAF tahun-tahun sebelumnya diselenggarakan di ruang Generik di antaranya Selasar Sunaryo, Land Mark Braga, Bandung Convention Centre.

“Pertama kali kita masuk kampus, kita ingin menggalakkan mahasiswa terutama kampus-kampus yang mempunyai program seni digital,” Perkataan Fesrival Director BUDAF 2017 Franki Raden, Kamis (7/12/2017).

Pameran seni digital bertaraf internasional ini diselenggarakan selama tiga hari 5-7 Desember 2017 dan mempunyai tujuan Bagaikan pameran karya seni alternatif yang di ini sedang berkembang diberbagai negara Disorientasi satunya Indonesia.

Meski hari ini merupakan hari terakhir, kunjungan mahasiswa luar dan di kampus, juga pengunjung Generik lainnya sangat berantusisa untuk mengunjungi BIDAF 2017.

“Kami ingin Mengakses peluang kepada anak-anak muda, terutama dengan cara menyeluruh mengenai seni digital. Kita sudah mengenal, tapi mengenalnya digital Bagaikan animasi atau content video game. Itu terlalu terbatas,” jelasnya.

Selain Telkom University, BIDAF 2017 mengajak perguruan tinggi lainnya yang ada di Badung Raya, di antaranya Unpas dan ITB yang Empati berpartisipasi Bagaikan peserta pameran dan observer.

Menurutnya, pameran yang mengusung tema ‘Digital Arts’ ini diikuti oleh Artis dari lima negara, terdiri dari Philipina, Prancis, Australia, Jerman, Amerika dan tak ketinggalan Artis Indonesia dengan menampilkan sekitar 50 karya seni digital.

Bandung International Design Arts Festival 2017Bandung International Design Arts Festival 2017 Foto: Wisma Putra/detikcom

Basic seni digital, dilakukan dengan tutorial berekspresi bebas, atau karib disebut seni alternatif. “Memang seni alternatif, tapi sekarang yang Jadi ujung tombak peradaban kita kan seni digital atau di luar negeri blue media arts,” tuturnya.

Pria berambut panjang itu mencontohkan saat melihat lukisan kanvas biasa dan dibandingkan dengan lukisan digital, maka gambar yang berada di lukisan itu Hayati atau seperti gambar 3D.

“Medianya tetap Serupa tapi dengan sentuhan digital lukisan Itu Jadi 3D. Ini disebut media baru, lukisan, film itu kan media lama. Tapi dengan digital dengan sentuhan efeknya dan komputer grafic Bisa Jadi lain,” ujarnya.

Franki menambahkan, perkembangan seni digital di Jawa Barat mendorong terbentuknya komunitas-komunitas anak muda yang Dinamis di bidang seni digital.

“di dasarnya, program BIDAF 2017 mempunyai rangkaian yang sangat luas meliputi kegiatan pameran, pertunjukan, seminar, workshop, demo, expo pendidikan dan produk teknologi seni digital baru,” ujarnya.

Disorientasi satu pengunjung, Reni Nopitasari (21) mahasiswi Unpad Menyebut karya seni digital yang ada di BIDAF 2017 ini membuatnya tak jenuh, pasalnya ia disuguhkan dengan karya seni berbasis teknologi.

“Seandainya biasa kita melihat lukisan kapal Bahari, di sini kapal lautnya Bisa Dinamis hingga karam. Hal Itu terlihat seperti asli di karenakan sudah berbasis 3D. Seru, banyak ilmu pengetahuannya, semoga BIDAF selanjutnya banyak karya yang lebih kreatif seiring perkembangan ilmu dan teknologi,” pungkasnya.

(dal/dal)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Tahun Depan, Ivan Gunawan Tak Lagi Jadi Desainer Indonesia di Miss Universe

Tahun depan, Ivan Gunawan tak lagi Jadi Disorientasi satu desainer yang karyanya bakal ditampilkan peserta ...

PESBUKERS 11 DESEMBER 2017 – PART 2

Disebut Telah Hijrah, Fedi Nuril Selalu Berusaha Berguru Lebih bagus

Jakarta – Fedi Nuril belakangan ini disebut makin berubah ke arah yang lebih bagus. Ada ...